MUDIK

MUDIK
SUKABUMI - YOGYAKARTA
Tampilkan postingan dengan label AGUS SUPRANTO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGUS SUPRANTO. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 September 2009

Pemberkasan sertifikasi jalur pendidikan

PEMBERKASAN SERTIFIKASI GURU JALUR PENDIDIKAN ANGKATAN 2007 YANG LULUS TAHUN 2008 ( Info : Rudy Subachir, S.Pd - Peserta dari UNJ )


1. Foto kopi sertifikat pendidik yang dilegalisir
2. Foto kopi Sk yang mencantumkan gaji terakhir : SK kenaikan pangkat, SK KGB, atau NCR bulan terakhir yang dilegalisir oleh kepsek
3. Surat keterangan beban kerja
4. Surat keterangan tugas beban tambahan ( yang diberi tugas tambahan saja )
5. Foto kopi rekening yang masih aktif ( tulisan harap diperjelas )
6. SK Sebagai guru tetap dari yayasan ( bagi non-PNS )
7. SK pengangkatan sebagai guru ( bagi non-PNS ) yang bertugas di sekolah negeri
8. SK pengawas dilegalisir Dinas Kab./Kota ( bagi yang jadi pengawas )

Berkas terkirim ( dikirim ) ke : Direktorat Profesi Pendidik Ditjen PMPTK melalui fax. ke 021 57974121 atau email ( berkas discan ) ke : sertifikasiguru@sertifikasiguru.org

Rabu, 18 Maret 2009

Siklus II - PKM

SIKLUS – II IMPLEMENTASI RPP PKM

SMP NEGERI 5 DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA

( Oleh : Agus supranto, S.Pd )


Sesuai dengan jadwal pada hari kamis, 05 Maret 2009 kami mencoba mengimplementasikan RPP – II dengan pertemuan ke – 2 yang telah kami susun bersama sebelumnya dengan sesama peserta PKM. Masih menggunakan model pembelajaran kooperatif Type “ Student Achivement Team Devisions ( STAD ) “, dan dengan menggunakan metode kolaboratif antara : tanya – jawab, diskusi, demonstrasi, peresentasi dan pemberian tugas pembelajaran berlangsung sesuai dengan rencana meskipun kekurangan masih tetap ada.

Dengan media pembelajaran yang telah dipersiapkan sebelumnya dan sesuai dengan langkah pembelajaran kooperatif Type STAD yang didahului dengan guru menyampaikan materi secukupnya sebagai pengantar, pada siklus ini kamipun meyampaikan materi KD 4.4 tentang Garis singgung persekutuan dalam dua lingkaran. Sebelum pembelajaran berlangsung kamipun mengecek alat / media yang harus dipersiapkan baik yang ada pada diri kami sebagai praktikan maupun yang ada pada diri peserta didik ( Jangka dan penggaris ). Dengan menggunakan gambar peserta didik mengenali garis singgung persekutuan dalam dua lingkaran, yang kemudian bersama peserta didik menemukan rumus panjang garis singgung persekutuan dalam dua lingkaran.

Setelah dianggap cukup , maka dengan LKS peserta didik mempersipakan diri untuk belajar berkelompok ( secara kooperatif ). Pada diskusi ini peserta didik membahas soal kuis – 1 yang dilanjutkan dengan soal kuis – 2 yang mengkaji tentang : gambar garissinggung persekutuan dalam dan termasuk materi prasyaratnya yaitu aplikasi dari Teorema Pytahgoras pada garis singgung persekutuan.

Tugas guru dalam diskusi kelompok ini adalah memfasilitasi jalannya diskusi. Tampak pada gambar ( foto ) guru sebagai fasilitator membimbing jalannya diskusi, sehingga sebagai guru harus siap dan tahu persis dengan segala pertanyaan dan arah kerja diskusi kelompok siswa tersebut. Dengan demikian LKS-pun harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dapat benar-benar membimbing jalan pikiran peserta didik.

Layanan terhadap peserta didik yang diberikan guru dalam diskusi ini harus secara merata terhadap semua kelompok. Tidak diperkenankan hanya kelompok tertentu saja, kecuali terhadap kelompok yang memang sudah secara aktif, kondusif dan mandiri tidak menemui kendala dalam menyelesaikan tugas. Hal ini untuk mengantisipasi adanya kegaduhan di dalam kelas. Karena ( menurut penulis ) pembelajaran dengan kooperatif dapat dikatakan berjalan dengan baik apabila semua peserta didik terfokus dengan apa yang mereka kerjakan, termotivasi dan merasa tertantang untuk sesegera mungkin menyelesaikan tugasnya.

Langkah selanjutnya dalam pembelajaran ( diskusi ) ini dilanjutkan dengan presentasi hasil diskusi masing-masing kelompok. Untuk lebih memotivasi peserta didik maka diadakan pemberian nilai kelompok, yaitu memberikan penghargaan ( bintang ) kepada kelompk yang berhasil menjawab kuis dengan benar dan atau memberikan skor/nilai berupa bintang sebagai penghargaan kepada setiap kelompok yang berhasil mengkoreksi jawaban kelompok lain dengan benar.

Setelah diadakan pemberian skor / nilai pada setiap kelompok, terlihat bahwa masing-masing kelompok berlomba untuk saling mengumpulkan skor / nilai terbanyak. Satu kelompok dengan kelompok lain tidak mau kalah dan saling bersaing untuk meningkatkan / menambah skor / nilai. Hal ini menandakan begitu termotivasinya peserta didik dalam proses pembelajaran. peserta didik merasa senang, tertantang dan dapat benar-benar memahami materi yang sedang dipelajarinya.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa begitu besarnya manfaat media / alat dalam proses pembelajaran bagi peserta didik. Dari soal kuis – 1 dan soal kuis – 2 peserta didik dapat benar-benar termotivasi dan gengsi untuk mempunyai skor / nilai kecil dibanding kelompok lain. Hal ini terlihat bahwa terhadap kelompok tertentu saling berpacu untuk mendapatkan skor / nilai tertinggi.



----- Selesai ----


Sabtu, 10 Januari 2009

Guru Masa Depan

Telah banyak upaya dalam meningkatkan kulalitas guru baik itu melalui : MGMP, Penataran-penataran, Work Shop, seminar, Pelatihan, atau yang sejenisnya. Penulis saat inipun sedang mengikuti program pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu guru yaitu, " Pendidikan sertifikasi ". Namun ( bukannya pesimis ) hasil-hasil evaluasi khususnya pendidikan matematika selama ini masih belum menunjukan peningkatan yang berarti. Dari usaha-usaha tersebut seharusnya : Mutu guru meningkat-Kualitas kerja guru meningkat- Mutu siswa meningkat. Hal ini dapat terbaca oleh kita bahwa, mutu guru sudah bagus hanya mutu kerja gurulah yang belum menyesuaikan dengan semestinya. Hal ini terjadi karena guru tidak pernah mendapatkan umpan balik terhadap kinerjanya, meskipun ada jarang, hal ini penulis alami.Sehingga guru tidak tahu bagaimana sebenarnya kita semua dalam melaksanakan pembelajarannya ? Dimana kelemahan atau kelebihannya ? Kurang bagaimana ? Akibatnya guru tidak tahu.
Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut, disamping meneruskan kegiatan-kegiatan tersebut diatas, juga diadakan pembinaan guru-guru tentang suatu sistem atau teknik supaya guru dapat mendapatkan umpan balik.Menurut Dr. Zamroni terdapat dua model peningkatan mutu guru yang perlu dipertimbangkan adalah :
a. memperkuat," hidden curriculum". yaitu proses penanaman nilai-nilai dan sifat-sifat pada diri siswa. Prose ini dilaksanakan lewat perilaku guru selama melaksanakan pembelajaran. Untuk menanamkan disiplin, guru perlu memberikan keteladanan kedisiplinan. Contoh : Guru memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu.
Sedangakan kegiatan pembinaan yang diperlukan adalah :
1. Mengkaji secara lebih mendalam makna, " hidden curriculum".
2. Secara sadar merancang pelaksanaan, " hidden curriculum".
3. Mengidentifikasi momen untuk melaksanakan, " hidden curriculum".

b. Self - Reflektion
Adalah suatu kegiatan untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan untuk mendapatkan umpan balik dari apa yang telah dilakukan.Umpan balik tersebut diantaranya :
1. pemahaman peserta didik tentang apa yang telah disampaikan
2. perilaku guru yang tidak efisien dan tidak efektif.
3. perilaku guru yang efisien dan efektif.
4. perilaku yang perlu diperbaiki
5. perilaku yang diinginkan oleh siswa
6. perilaku yang seharusnya dilakukan.
berdasarkan self-reflektion inilah guru akan memperbaiki dan terus memperbaiki pola pembelajarannya. Minimal ada dua cara bagi guru melakukan refleksi yaitu : pertama guru melakukan PTK dan kedua guru manampung pendapat-pendapat siswa. Pada akhirnya penulis mengajak para pembaca yang kebetulan sama berprofesi sebagai guru, apabila sependapat dengan hal diatas marilah kita laksanakan bersama demi kemajuan pendidikan bangsa ini. Untuk itu saran, komentar, pendapat atau kritik sangat di harapkan dalam Blog ini,.......... 1

Agus supranto, S.Pd
Guru SMP Negeri 1 Kadudampit Kabupaten Sukabumi
Contact person : 085218273390

Minggu, 28 Desember 2008

DETEKSI KECERDASAN SISWA

DETEKSI KECERDASAN SISWA


A. Pengertian kecerdasan
Inteligensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, malainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektualnya ( Syamsu Yusuf, 2007, hal. 106 ) . Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam mengartikan inteligensi ( kecerdasan ) ini para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Diantara pengertian itu adalah :
1. C. P. Chaplin ( 1975 ) mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan mengahadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara tepat dan efektif.
2. Anita E. Woolfolk ( 1995 ) mengemukakan bahwa inteligensi itu meliputii tiga pengertian yaitu : kemampuan untuk belajar, keseluruhan pengetahuan yang diperoleh dan kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Selanjutnya diungkapkan bahwa inteligensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.
3. Binet ( Sumadi S,. 1984 ) menyatakan bahwa sifat hakikat inteligensi itu ada tiga macam, yaitu : a). kecerdasan untuk menetapkan dan empertahankan ( memperjuangkan ) tujuan tertentu. Semakin cerdas seseorang, akan semakin cakap dia mengkondisikan tujuan, mempunyai inisiatif sendiri tidak menunggu perintah saja. b). kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan tersebut, c). kemampuan untuk melakukan otokritik, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah pernah dubuatnya.
4. Raymon Cattel dkk. ( Kimble dll., 1980 ) mengklarifikasikan inteligensi kedalam dua kategori, yaitu : a). “ Fluid Inteligence”, yaitu kemampuan analisis kognitif yang relatif tidak dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya.; b). “ Crystallized Inteligence”, yaitu ketrampilan-ketrampilan atau kemampuan nalar ( berpikir ) yang dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya.
5. Menurut Wechsler ( dalam : Monks, Knoers, 2002 , hal. 237 ) “ Intelegensi “ adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan seseorang untuk dapat bertindak terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien.

B. Kecerdasan Intelektual dan pembimbingannya
Menurut Syamsu Yusuf ( 2007 ; 111-113 ) dijelaskan bahwa uraian tentang inteligensi ( kecerdasan ) dalam ukuran kemampuan intelektual atau tataran kognitif terhadap sampel yang mewakili populasinya, dikembangan suatu sistem norma atau ukuran keceerdasan dengan sebaran sebagai-berikut :

IQ
( INTELLIGENCE QUOTION )
KLASIFIKASI
140 - ke atas : jenius
130 – 139 : Sangat cerdas
120 – 129 : Cerdas
110 – 119 : Di atas normal
90 – 109 : Normal
80 – 89 : Di bawah normal
70 – 79 : Bodoh
50 – 69 : Terbelakang ( Imbecile / dan Idiot )
49 – ke bawah : Terbelakang ( Imbecile / dan Idiot )

a). Idiot IQ : 0 – 29
Merupakan kelompok individu terbelakang yang paling rendah. Tidak dapat berbicara ( hanya dapat mengucapkan kata beberapa saja ). Biasanya tidak dapat mengurus dirinya sendiri seperti : mandi, berpakaian, makan dan lain sebagainya. Jadi dalam proses pembimbingannya harus di urus oleh orang lain. Anak seperti ini tinggal di tempat tidur seumur hidupnya. Rata-rata perkembangan inteligensinya sama dengan anak norma umur 2 tahun. Badannya kurang tahan terhadap penyakit sehingga biasanya umurnya tidak lama. Baik di sekolah biasa maupun sekolah luar biasa ( SLB ) anak ini tidak ditemui.

b). Imbecile IQ : 30 – 40
Kelompok ini setingkat lebih tinggi dari idiot. Ia dapat belajar berbahasa, dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasan yang teliti. Pada kelompok ini dapat diberikan latihan-latihan ringan, tetapi dalam kehidupannya tetap dalam pengawasan orang lain, tidak dapat mandiri. Kecerdasannya sama dengan anak normal umur 3 – 7 tahun. Kelompok ini tidak dapat di didik di sekolah biasa.
c). Debil atau Moron ( mentally handicapped/mentally retarted ), IQ : 50 – 69
Kelompok ini sampai tingkat tertentu dapat belajar membaca, menulis dan membuat perhitungan-perhitungan sederhana, dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan. Banyak anak-anak kelompok ini dibimbing di sekolah-sekolah luas biasa ( SLB ).
d). Kelompok bodoh ( dull / bordeline ), IQ : 70 – 79
Kelompok ini berada di atas kelompok terbelakang dan di bawah kelompok normal. Dalam pembimbingan anak-anak ini secara bersusah payah dengan beberapa hambatan, dapat melaksanakan sekolah lanjutan tingkat pertama ( SLTP ) tetapi sukar sekali untuk dapat menyelesaikan diakhir-akhir kelasnya.
e). Normal rendah ( below avarage ), IQ : 80 – 89
Kelompok ini termasuk kelompok normal, rata-rata atau sedang pada tingkat terbawah, mereka agak lambat dalam belajarnya. Dalam pembimbingannya merteka dapat menyelesaiakn sekolahnya di tingkat SLTP tetapi agak kesulitan untuk menyelesaikan pendidikan ke jenjang SLTA.
f). Normal sedang, IQ : 90 – 109
Kelompok ini termasuk kelompok normal atau rata-rata. Mereka termasuk kelompok terbesar populasi penduduknya.
g). Normal tinggi ( above average ), IQ : 110 – 119
Kelompok ini termasuk kelompok individu yang normal hanya berada pada tingkat yang tinggi.
h). Cerdas ( superior ), IQ : 120 – 129
Kelompok ini sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah / akademik. Mereka menonjol dalam kelompok biasa.
i). Sangat cerdas ( very superior / gifted ), IQ : 130 – 139
Anak-anak pada kelompok ini lebih cakap dalam membaca, mempunyai pengetahuan tentang bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang sangat luas dan cepat memahami pengertian yang asbtrak. Pada umumnya faktor kesehatan, kekuatan dan ketangkasan lebih menonjol daripada anak normal.
j). Genius IQ : 140 – ke atas
Kelompok ini kemampuannya sangat luar biasa. Mereka biasanya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun tidak sekolah. Kelompok ini berada dalam semua ras dan bangsa, dalam semua tingkat ekonomi, baik laki maupun perempuan.
Terkait dengan kecerdasan intelektual peserta didik tersebut maka dalam pembimbingan di sekolah tentunya harus diperhatikan / disesuaikan dengan tingkat IQ masing-masing invividu. Karena dalam hal ini akan berpengaruh terhadap kemampuan dan keberhasilan peserta didik tersebut dalam melaksanakan tugas perkembangan pribadinya. Pembimbingan tidak hanya diberikan kepada mereka yang memang mempunyai IQ lemah, tetapi yang cerdaspun perlu bimbingan. Mereka yang mempunyai IQ tinggi hanya akan berhasil dan sukses dalam hidupnya ( menjalankan tugas perkembangannya ) apabila didorong oleh aspek-aspek yang lain. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Terman (dalam : Monks, Knoers, 2002 , hal. 247 ), bahwa kemampuan intelektual yang tinggi hanya bisa menghasilkan prestasi yang istimewa bila bekerja sama dengan keteguhan, kepercayaan diri serta lingkungan yang positif. Jadi dalam hal ini perlu mensinergikan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. Sudah selayaknya mulai ditinggalkan paradigma lama yang menyatakan bahwa orang yang mempunyai IQ tinggi ( cerdas ) pasti akan suskses hidupnya, sukses dalam menjalankan tugas-tugas perkembangan hidupnya.. Apalagi adanya pengaruh budaya yang semakin komplek, pengaruh kehidupan sosial masyarakat yang semakin beragam. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa cerdas merupakan faktor / modal yang sangat penting.

C. Kecerdasan Emosional dan Pembimbingannya
Terdapat beberapa versi terkait dengan pengertian, “ emosi”. Berikut ( dalam Syamsu Yusuf ) beberapa rujukan yang dapat kita gunakan untuk mengkorek lebih jauh nantinya tentang pengertian ,” kecerdasan emosional”.
a). Menurut English and english, emosi adalah,” A complex feeling state accompained by characteristic motor and glandulas activities” ( suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karateristik kegiatan kelenjar dan motoris ).
b). Menurut Sarlito Wirawan Sarwono bahwa emosi merupakan “ setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah ( dangkal ) maupun pada tingkat yang luas ( mendalam ).
Lebih jauh dijelaskan bahwa kecerdasan emosional ini merujuk pada kemampuan-kemampuan mengendalikan diri, memotivasi diri dan berempati. Secara jelas unsur-unsur kecerdasan emosional ini dapat disimak pada tabel berikut :

ASPEK
KARATERISTIK PERILAKU

1. Kesadaran diri
a. Mengenal dan merasakan emosi diri
b. Memahami penyebab perasaan yang timbul
c. Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan

2. Mengelola emosi
a. Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu mengelola amarah secara lebih baik
b. Lebih mampu mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi
c. Dapat mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain
d. Memiliki perasaan yang positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga
e. Memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa ( strees )
f. Dapat mengurangi perasaan kesepian dan cemas dalam pergaulan

3. Memanfaatkan emosi secara produktif
a. Memiliki rasa tanggung-jawab
b. Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan
c. Mampu mengendalikan diri dan tidak bersifat impulsif

4. Empati
a. Mampu menerima sudut pandang orang lain
b. Memiliki sikap empati atau kepekaan terhadap perasaan orang lain
c. Mampu mendengarkan orang lain

5. Mermbina hubungan
a. Memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menganalisis hubungan dengan orang lain
b. Dapat menyelesaikan konflik dengan orang lain
c. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang lain
d. Memiliki sikap bersahabat atau mudah bergaul dengan teman sebaya
e. Memiliki sikap tenggang rasa dan perhatian terhadap orang lain
f. Memperhatikan kepentingan sosial ( senang menolong orang lain ) dan dapat hidup selaras dengan kelompok
g. Bersikap senang berbagi rasa dan bekerja sama
h. Bersikap demokratis dalam bergaul dengan orang lain

Bila kita perhatikan dalam interaksi kehidupan sosial di masyarakat Peserta didik ( anak / siswa ) yang cerdas dan kurang cerdas menunjukan sikap dan perilaku yang berbeda. Peserta didik ( anak / siswa ) yang kurang cerdas memperlihatkan pengendalian emosional yang kurang dibanding dengan peserta didik lain yang seusia yang lebih cerdas. Oleh karena itu dalam pembimbingan di sekolah guru harus memperhatikan secara khusus terhadap peserta didik yang tingkat kecerdasannya kurang, tanpa mengabaikan peserta didik yang cukup cerdas. Dengan melihat unsur-unsur kecerdasan emosional pada tabel diatas guru juga dapat mengkorelasikan antara aspek yang diperlukan dan karateristik yang diharapkan.
Pada masa remaja juga dapat dikatakan merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Menurut Monks, Knoers, ( 2002 , hal. 288 ) batasan usia remaja di antara ( 12 – 21 ) tahun dengan perincian ( 12 – 15 ) tahun masa remaja awal, ( 15 – 18 ) tahun masa remaja pertengahan, dan ( 18 – 21 ) tahun masa remaja akhir. Masa pubertas meliputi masa remaja awal dan berisi perubahan fisik seperti percepatan pertumbuhan dan timbulnya seksualitas. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi perkembangan emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan baru yang alaminya, misal : cinta, rindu dan perasaan untuk berkenalan lebih intim kepada lawan jenis. Pada masa remaja awal perkembangan emosinya juga menunjukan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya betrsifat negatif dan temperamental ( mudah marah / tersinggung, mudah sedih / murung ). Pada remaja akhir sudah dapat mulai mengendalikan emosinya.Implikasinya terhadap pembimbingan guru tentunya harus dapat menciptakan iklim yang kondusif ( harmonis, saling percaya, saling menghargai, dan penuh tanggung-jawab ) dalam lingkungan sekolah maupun keluarga dalam kerjasamanya dengan pihak orang tua. Dengan situasi ini tentunya peserta didik akan cepat memperoleh kematangan emosionalnya, yang merupakan tugas perkembangan yang amat sulit bagi remaja anak usia sekolah. Kematangan emosi ini ditandai dengan :
1). Adekuasi emosi ( cinta kasih, simpati ), altruis ( senang menolong orang lain ), respek ( sikap hormat atau menghargai orang lain ), dan ramah.
2). Mengendalikan emosi : tidak mudah tersinggung, tidak agresif, bersikap optimis dan tidak pesimis ( putus asa ), dan dapat menghadapi situasi frustasi secara wajar.
Dengan demikian berhasil atau tidaknya guru dalam mengadakan pembimbingan di sekolah terhadap perserta didik dapat dilihat pada indikator di atas.

D. Kecerdasan spiritual
Terkait dengan kecerdasan ini dapat kita pahami, maksudnya adalah sikap intelektualitas peserta didik ( remaja ) dalam mensikapi bahwa dia sebagai makhluk Tuhan ( Hablumminn-Allah ), disamping sebagai makhluk sosial ( Habluminannas ). Kecerdasan insan dalam mengembangkan keimanan, ketaqwaan terhadap sang pencipta, dan dalam menggali nilai-nilai kehidupan agamanya menjadi faktor paling penting. Karena misi dari ibadah mempunyai tugas mulia yaitu untuk memperoleh ketenangan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kenyamanan hidup, baik di dunia maupun diakhirat. Pemahaman yang mendalam tentang konsep tersebut diatas maka sekolah dapat memanfaatkannya dalam pembimbingan peserta didik. Upaya pembimbingan peserta didik terkait dengan kegiatan ini dapat dilaksanakan / direalisasikan melalui upaya :
a). Sekolah ( Kepala sekolah, guru dan personila lainnya ) mempunyai komitmen untuk bersama-sama peduli terhadap penanaman nilai-nilai keagamaan di sekolah. Baik itui melalui
• Pembelajaran di kelas
• Pembiasaan yang diaplikasikan dalam bentuk kegiatan rutin
• Pemberian contoh tentang sikap, tutur kata, perilaku cara berpakian dan ibadah.
b). Guru agama sebaiknya mempunyai kepribadian yang terpuji ( akhlakul karimah ) dan dapat mengemas pembelajaran agamanya menjadi pejaran yang bermakna bagi tugas perkembangan peserta didik
c). Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah, misal : peringatan hari-hari besar, pesantren kilat dan tugas keagamaan lain
d). Mengadakan ( Sesekali ) forum diskusi keagamaan
f). Sekolah menyediankan sarana ibadah ( masjid atau mushola ) yang memadai, dan tentunya sekolah mampu mengkondisikan untuk memanfaatkannya semaksimal dan se-efektif mungkin.
g). Sekolah dapat bekerja sama dengan : orang tua / wali atau para tokoh-tokoh agama ( ulama ) setempat dalam membimbing peserta didik untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaa-Nya.
h). Sekolah sesekali waktu juga dapat bekerja sama dengan pondok pesantren setempat dalam menggali kehidupan yang agamis. Misal : kolaborasi peringatan hari besar
i). Guru – guru dapat mengkolaborasikan antara nilai-nilai agama dengan pelajaran yang diampunya. Misal : untuk pelajaran biologi ditekankan pada siswa bahwa semua makhluk ( hidup atau mati ) adalah ciptaan Tuhan.
j). Sekolah dapat mengadakan segala macam jenis kegiatan lomba antar ( kelas atau sekolah terdekat ). Misal : Dacil / Da’i kecil, baca-tulis Al-qur’an, Adzan, Busana Muslim, dll
k). Sekolah dapat pula melaksanakan Tabliqh Akbar ( apabila mampu ) dalam sesekali waktu peringatan hari besar
l). Mengadakan kegiatan sholat dhuhur bersama di sekolah, secara bergiliran kelas ( untuk sekolah yang tempatnya tidak mencukupi ).
m). Sekolah dapat menganjurkan untuk berpakaian muslim di sekolah untuk hari-hari tertentu ( misal : hari jum’at ).
n). Mengadakan praktek penyembelihan hewan kurban di sekolah ( jika mampu ).
o). Membantu teman peserta didik lain yang sedang mengalami kesusahan, dengan tujuan menumbuhkan nilai-nilai manusiawi pada peserta didik.
p). Mengunjungi peserta didik lain ( dipandu oleh guru ) yang sedang terkena musibah.
q. Mengadakan kegiatan remaja mesjid, dll.


Agus supranto, S.Pd
Guru SMP Negeri 1 Kadudampit Kabupaten, Sukabumi – Jawa Barat
Sukabumi : ( 0266 ) 238031 / ( 0266 ) 232867
HP. : 085 218 273 390
Catatan : Anda tertarik dengan makalah diatas ? tinggalkan komentar and E-mail.

PARADIGMA LAMA - BARU GURU MATEMATIKA

PARADIKMA LAMA DAN PARADIGMA BARU
GURU MATEMATIKA


Yang dimaksud paradigma disini adalah contah gambaran, bagaimana guru matematika selama ini melaksanakan proses pembelajaran dan bagaimana seharusnya guru matematika melakukan proses pembelajaran.. Hal ini diungkapkan supaya kita sebagai guru matematika dapat instropeksi dan merefleksikan diri untuk bersedia mau memperbaharui diri terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan selama ini. Paradigma lama yang dimaksud adalah :
a. peran guru
guru dalam hal ini mendominasi kelas, yang berkuasa dan siswa dianggap sebagai obyek yang dikuasasi, diatur diarahkan, dibimbing. Semua ide-ide, informasi, pertanyaan, evaluasi dan penilaian berpusat pada guru. Guru hendak memindahkan semua yang dimiliki, jadi memberikan pengetahuan kepada siswa tidak membangun pengetahuan.

b. Perlakuan siswa
Semua siswa dianggap sama ( walaupun kenyataannya masing-masing individu berbeda ), baik dari bakat, minat, kemampuan, kesiapan belajar ,dll. Dalam uji kemampuan semua siswa diberi soal dengan tingkat kesukaran yang sama, dengan harapan semua siswa maju bersama.

c. Pertanyaan
Hampir semua pertanyaan datangnya dari guru, siswa hanya menjawab dan menjawab. Sebagaian besar pertanyaan hanlah hanya tes ingatan ( mengingat rumus ).

d. Latihan soal
Soal-soal yang diberikan hanyalah penerapan dari rumus, tidak memberikan pancingan kepada siswa untuk berpikir. Yang penting adalah jawaban.

e. Interaksi
Interaksi belajar satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Siswa hampir tidak diberikan kesempatan memberikan umpan balik kepada guru. Sehingga guru dianggap satu-satunya yang paling pintar di kelas tersebut.

f. Sumber belajar
Sumber belajar yang ada hanyalah guru dan buku itupun sedikit / tidak semua siswa punya buku sumber.

g. Alat bantu ( media ) belajar
Alat bantu yang digunakan biasanya hanya talk dan chalk. Guru biasanya kurang kreatif, malas, apalagi berinovatif untuk berprakarsa membuat alat bantu atau media yang sesuai.

h. Variasi kegiatan
Kegiatan belajar biasanya hanya : Rumus – latihan soal – soal. Mengikuti urutan baku yang ada dalam buku ( sesekali mencatat, bercerita, bertanya, latihan soal ) merupakan rutinitas setiap harinya.

i. Pengelolaan kelas
Pembelajaran kebanyakan dilakukan secara klasikal atau kelompok besar. Hampir tidak pernah dicoba untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif. Jadi kemampuan individu yang bervariasi terabaikan dan kurang diperhatikan.

j. Penilaian
Penilaian dan bentuk soal kurang variatif. Biasanya hanya ulangan harian dan ulangan umum

Mensikapi dari potret guru matematika diatas yeng penting sekarang adalah bagaimana kita sebagai guru matematika melakukan perubahan ( hijrah ) terhadap paradigma lama pembelajaran matematika ke paradigma baru, untuk disesuaikan dengan pembelajaran yang sesuai dengan keadaan saat ini. Bagaimana potret pembelajaran matematika yang sesuai dengan keadaan saat ini ? adalah pembelajaran yang inovatif. Menurut Dr. Marsigit ( 2008 : Nilai Matematika dan Nilai luhur Bangsa ) dikemukakan bahwa ,” Transfer of knowlwdge “, dari guru ke murid telah dianggap sebagai paradigma yang kurang sesuai denga hakekat mendidik. Lebih lanjut dijelaskan oleh beliau, sebagai alternatifnya dikembangkan paradigma baru yaitu “ Cognitive-development” sebagai upaya untuk mengembangkan potensi sibelajar. Hal tersebut tentunya dapat dipahami bahwa pembelajaran progresif ( inovatif ) – lah yang dimaksud. Menurut Beliau pembelajaran inovatif memiliki ciri-ciri :
a. mengadapsi ciri-ciri kedaerahan ( otonomi )
b. memeberikan pendidikan yang bulat ( jasmaniah, rokhaniah, sosial, emosional )
c. mendidik untuk memecahkan soal-soal hidup
d. pendidikan untuk semua anak
e. turut serta dalam pembudayaan
f. siswa aktif
g. pelajaran dipadukan
h. berorientasi kepada kehidupan
i. menggunakan bermacam-macam cara untuk menilai murid
j. mengembangkan alat bantu belajar
k. pembelajaran kelompok / invividual
l. tidak begitu formal
m. materi sesuai dengan kebutuhan individu
n. murid menemukan dan membangun knowledge struktur pengetahuan
o. mendorong kerja sama
p. kerja sama guru – murid / kooperatif
q. realitas hidup / mengakui perbedaan
r. hasil adalah juga termasuk prosesnya
s. motivasi belajar bersifat internal
t. kesadaran dan tidak ada hukuman
u. jawaban salah bernilai pedagogis
v. matematika sebagai proses berpikir
w. pendidikan merupakan kebutuhan
x. siswa perlu tumbuh dan berkembang
y. metode mengajar bervariasi / fleksibel
z. kreativitas guru dan lingkungan bermanfaat untuk mengembangkan alat
aa. sabar dan menunggu sampai siswa dapat memahami konsep matematika

Untuk melaksanakan itu semua / menjadi guru yang inovatif maka diperlukan sosok guru yang diharapkan mau untuk melakukan perubahan. Sudahkah guru-guru matematika di Indonesia melakukan perubahan ? Bagaimana kalau tidak melakukan perubahan ? Yang jelas dimulai dari diri kita masing-masing. Selamat berjuang……. 1

Agus supranto, S.Pd
Guru SMP Negeri 1 Kadudampit Kabupaten, Sukabumi – Jawa Barat
Sukabumi : ( 0266 ) 238031 / ( 0266 ) 232867
HP. : 085 218 273 390